Ia bukan dari kalangan Quraisy. Ia bukan penulis wahyu, bukan panglima perang, bukan penghafal hadits. Tapi ketika Malaikat Jibril turun ke bumi, ia memilih wajah Dihyah al-Kalbi sebagai rupa yang paling layak untuk menyampaikan wahyu.

Dihyah bin Khalifah al-Kalbi r.a. adalah sahabat yang dikenal karena ketampanannya. Wajahnya bersih, sorot matanya tenang, dan tutur katanya lembut. Ia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya membuat orang diam. Ia bukan hanya tampan, ia berwibawa.

Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu, Jibril sering datang dalam rupa Dihyah. Umm Salamah r.a. berkata:

رأيتُ دِحيةَ الكلبيَّ عندَ النبيِّ ﷺ، فدخلَ، ثمَّ خرجَ، فقلتُ: يا رسولَ اللهِ، مَن هذا؟ قالَ: هذا جِبريلُ

“Aku melihat Dihyah al-Kalbi masuk menemui Nabi ﷺ, lalu keluar. Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Itu adalah Jibril.’” (HR. Muslim no. 2333)

Wajah Dihyah menjadi cermin langit. Karena keindahan bukan hanya soal bentuk, tapi tentang kesucian jiwa yang pantas menjadi perantara wahyu.

Tapi Dihyah bukan hanya simbol. Ia adalah utusan diplomatik pertama Islam. Ketika Rasulullah ﷺ ingin menyampaikan surat dakwah kepada Kaisar Romawi, beliau memilih Dihyah. Ia berjalan jauh, melintasi padang dan istana, membawa risalah tauhid kepada Heraklius. Ia tidak gentar. Ia tidak tergoda. Ia menyampaikan surat itu dengan adab dan keberanian.

كتب رسول الله ﷺ إلى هرقل يدعوه إلى الإسلام، وبعث معه دِحيةَ الكلبي

“Rasulullah ﷺ menulis surat kepada Heraklius mengajaknya masuk Islam, dan mengutus Dihyah al-Kalbi membawanya.” (Diriwayatkan oleh Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyah)

Dihyah tidak banyak muncul di medan perang. Tapi ia hadir di medan yang lebih sunyi: medan diplomasi, medan representasi, medan kepercayaan. Ia adalah wajah yang membawa wahyu, dan langkah yang membawa surat langit ke istana dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *