Di penghujung hidupnya, Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu terbaring lemah. Ia bukan orang biasa, dulu diplomat Quraisy yang cerdas, penentang dakwah Nabi ﷺ, lalu berubah menjadi panglima Islam yang menaklukkan Mesir dan memimpin dengan keadilan. Tapi hari itu, ia tidak bicara tentang kemenangan. Ia bicara tentang kematian.
Putranya, Abdullah bin Amr, duduk di sampingnya. Ia menyaksikan ayahnya menangis, bukan karena takut kehilangan dunia, tapi karena takut bertemu Allah dengan dosa masa lalu. Dalam tangisnya, Amr berkata:
إذا أنا مت فلا تصحبني نائحة ولا نار، فإذا دفنتموني فشنوا علي التراب شنًّا، ثم أقيموا حول قبري قدر ما تُنحر جزور ويُقسم لحمها، حتى أستأنس بكم، وأنظر ماذا أراجع به رسل ربي.
“Jika aku wafat, jangan ada ratapan dan jangan nyalakan api. Setelah kalian menguburkanku, taburkan tanah perlahan. Lalu berdirilah di sekeliling kuburku selama waktu menyembelih unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa tenang bersama kalian dan melihat apa yang akan aku jawab kepada utusan Rabbku.” (R. Muslim, no. 121)
Abdullah pun memandikan jenazah ayahnya dengan penuh cinta. Ia membalut tubuh itu dengan kafan, lalu berkata dalam hati: “Wahai ayah, tulangmu dulu tegak menentang kebenaran. Tapi Allah membalikkan hatimu, dan kini engkau kembali dalam keadaan tunduk. Semoga langit memuliakanmu, sebagaimana bumi menerimamu dengan lembut.”
Jenazah Amr bin al-‘Ash dimakamkan dengan penuh kehormatan. Para sahabat mengenangnya sebagai orang yang berubah total karena Islam, dan sebagai pemimpin yang takut kepada akhirat meski berjaya di dunia.
