Ia lahir di Persia, di tengah keluarga terpandang pemuja api. Rumahnya megah, pakaiannya halus, dan masa depannya telah digariskan sebagai penjaga kuil. Tapi sejak kecil, hatinya gelisah. Ia bertanya: apakah api yang padam bisa menjadi Tuhan?

Pertanyaan itu membawanya keluar dari istana keyakinan. Ia bertemu seorang pendeta Nasrani yang mengajarkan kasih dan tauhid. Salman pun meninggalkan rumah, lalu memulai perjalanan panjang mencari kebenaran. Dari Syam ke Mosul, dari Mosul ke Nusaybin, dari satu guru ke guru lain. Setiap kali gurunya wafat, ia diberi petunjuk: “Akan datang seorang Nabi di tanah Arab. Jika kau ingin kebenaran, carilah dia.”

Salman pun berangkat. Ia membawa bekal seadanya, termasuk sepasang sepatu kulit Persia yang ia simpan rapi. Tapi dalam perjalanan, ia ditipu dan dijual sebagai budak. Ia akhirnya dimiliki oleh seorang Yahudi di Madinah.

Meski menjadi budak, ia tetap menanti. Ia mengamati tanda-tanda kenabian yang dulu disebut gurunya: Nabi tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Di punggungnya ada tanda kenabian. Dan ketika Salman melihat semua itu pada diri Muhammad ﷺ, ia menangis.

Ia pun masuk Islam. Rasulullah ﷺ membebaskannya dengan bantuan para sahabat. Salman menyerahkan seluruh hidupnya untuk Islam. Ia ikut Perang Khandaq dan mengusulkan strategi parit yang menyelamatkan Madinah. Ia menjadi sahabat yang paling dihormati karena ilmunya, kesederhanaannya, dan kerendahan hatinya.

Dan sepatu Persia itu, yang ia bawa sejak awal perjalanan dan tak pernah ia pakai. Ia berkata, “Aku belum layak mengenakan sesuatu dari masa lalu, sebelum aku bertemu kebenaran.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *