Ia adalah lelaki lembut yang pemalu, tapi hatinya penuh cahaya. Utsman bin Affan r.a., menantu Rasulullah ﷺ, penulis wahyu, dan pemilik dua cahaya karena menikahi dua putri Nabi ﷺ. Ia dikenal karena kesantunan, kemurahan hati, dan wajah yang selalu teduh.
Ketika menjadi khalifah, Utsman memimpin dengan hati. Ia memperluas wilayah Islam, menyatukan mushaf Al-Qur’an, dan menjaga umat dengan kelembutan. Tapi kelembutan itu diuji. Fitnah datang, bukan dari musuh luar, tapi dari dalam umat sendiri.
Orang-orang mengepung rumahnya. Mereka menuntut kekuasaan, mencaci, dan mengancam. Para sahabat menawarkan perlindungan. Mereka membawa pedang dan berkata, “Izinkan kami melawan mereka.” Tapi Utsman menolak.
قال عثمان رضي الله عنه: والله لا أخلع قميصاً قمصنيه الله، ولا أكون أول من فتح باب الفتنة
“Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju (kekhalifahan) yang Allah pakaikan padaku, dan aku tidak akan menjadi orang pertama yang membuka pintu fitnah.” (Diriwayatkan oleh Ibn Sa‘d dalam al-Tabaqat al-Kubra, dan disebutkan oleh Ibn Kathir dalam al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 7/183)
Ia memiliki pedang. Tapi ia memilih tidak mengangkatnya. Ia berkata, “Aku tidak akan menjadi orang pertama yang menumpahkan darah umat Muhammad ﷺ.” Ia lebih memilih terbunuh daripada membunuh. Ia lebih memilih Al-Qur’an daripada kekuasaan.
Hari itu, Utsman duduk di rumahnya. Ia berpuasa. Ia membaca mushaf. Dan ketika para pemberontak masuk, mereka membunuhnya. Darahnya membasahi lembaran Al-Qur’an. Tetesan itu jatuh di ayat:
فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka Allah akan mencukupkan (melindungi) engkau dari mereka. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)
