Dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW di pondok pesantren Baitur Rohmah Nyamplong sumberanyar Banyuputih Situbondo, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy menyampaikan bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam pengamalan sunnah dan ajaran beliau. Cinta yang sejati kepada Nabi adalah cinta yang hidup, yang tampak dalam amal dan sikap sehari-hari.
- Cinta kepada Nabi: Menghidupkan Sunnahnya
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 2678)
Hadis ini menjadi landasan bahwa cinta kepada Nabi tidak cukup hanya dengan pujian atau peringatan maulid, tetapi harus diwujudkan dalam pengamalan ajaran beliau. Bentuk cinta itu adalah memahami ajaran Nabi dan mengamalkannya serta mengajarkannya kepada orang lain.
- Sunnah sebagai Penjaga dari Adzab
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah tidak akan menimpakan adzab kepada suatu kaum selama di tengah mereka ada yang menghadirkan keberadaan Nabi. Maka, menghidupkan sunnah adalah bentuk penjagaan spiritual dari murka Allah. Sosok Nabi harus hadir dalam kehidupan umat, bukan hanya dalam sejarah. Surat Al-Anfal ayat 33, yang menjadi landasan penting dalam kajian tentang keberkahan dan penjagaan umat melalui kehadiran Rasulullah ﷺ:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama mereka memohon ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)
- Sunnah Dimulai dari Perbuatan Sehari-Hari
Menghidupkan ajaran Nabi tidak harus dimulai dari hal besar. Justru yang paling utama adalah memulainya dari perbuatan kecil yang kita lakukan setiap hari: membaca bismillah sebelum makan, menjaga kebersihan, berlaku jujur, dan beradab dalam rumah tangga. Sunnah adalah laku hidup, bukan sekadar simbol.
- Rahmat bagi Pengamal Sunnah
Barangsiapa yang mengamalkan sunnah Nabi dengan ikhlas, maka insya Allah akan senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah. Sunnah adalah jalan keselamatan dan keberkahan. Ia menjadi cahaya yang menuntun kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.
- Pedagang Jujur: Amal Nabi yang Terlupakan
Salah satu bentuk nyata menghidupkan amal Nabi adalah menjadi pedagang yang jujur. Rasulullah SAW adalah pedagang yang amanah. Dalam hadis disebutkan bahwa pedagang jujur akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada. Maka kejujuran dalam muamalah adalah sunnah yang sangat bernilai.
- Memulai dari Rumah Tangga
Menghadirkan sosok Nabi bisa dimulai dari rumah tangga: cara menyapa pasangan, mendidik anak, menjaga kebersihan, dan membangun suasana kasih sayang. Sunnah Nabi sangat kaya dalam aspek domestik dan sosial, dan rumah adalah tempat pertama untuk menghidupkannya.
- Doa dan Dzikir yang Menghadirkan Keberkahan
selain itu, salah amalnya yang diajarkan nabi ketika akan memasuki rumah sendiri, kita bisa membaca: Assalamu ‘alaina, kemudian bisa ditambah wa ‘ala ‘ibadillahish-shalihin, Sebagai bentuk salam kepada Nabi dan para hamba Allah yang saleh. Doa ini bisa diperkuat dengan membaca Ayat Kursi dan Surat Al-Ikhlas sebagai penjagaan dan penguat spiritualitas agar rumah kita selalu dijaga oleh Allah.
- Ihya’ Ulumuddin: Syetan Kurus dan Gemuk
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa makanan dan minuman yang tidak dibacakan bismillah akan menjadi santapan bagi syetan. Syetan gemuk adalah yang kenyang dari makanan manusia yang lupa menyebut nama Allah. Maka sunnah membaca bismillah adalah penjagaan dari gangguan batin.
- Pendidikan Harus Melibatkan Sosok Nabi
Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dikenal sebagai ulama yang gemar membaca hadis sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah SAW. Setiap kali membaca hadis, beliau otomatis bershalawat. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dan ilmu harus melibatkan Nabi. Jika tidak, maka sistem akan kehilangan ruh dan arah.
- Etika Menyebut Nama Nabi
Di akhir pesan, Kiai Azaim mengingatkan agar kita berhati-hati dalam menyebut nama-nama nabi. Dalam konteks geopolitik, beliau menyarankan agar tidak menyebut “Israel” untuk merujuk pada entitas politik modern, karena Israel adalah nama Nabi Ya’qub. Sebaiknya gunakan istilah “Zionis” agar tidak mencampuradukkan antara nama nabi dan konflik dunia.
