Hari itu langit Uhud memerah. Debu perang berterbangan, dan suara pedang beradu menggema di antara teriakan takbir dan jerit luka. Di tengah kekacauan itu, seorang wanita berdiri tegak: Nusaibah binti Ka’ab, dikenal sebagai Ummu Umarah. Ia bukan prajurit terlatih, bukan pemegang panji, tapi hatinya memegang cinta yang lebih tajam dari pedang cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Awalnya, ia datang ke medan perang untuk membantu logistik dan merawat para prajurit yang terluka. Bersama para wanita lainnya, ia membawa kantong air dan kain perban. Tapi ketika barisan Muslim goyah karena pasukan pemanah meninggalkan posnya, dan Rasulullah ﷺ terancam dikepung oleh musuh, Ummu Umarah tidak tinggal diam.
Ia melihat Rasulullah ﷺ berdiri sendirian, tubuh beliau menjadi sasaran panah dan tombak. Tanpa ragu, Ummu Umarah mengambil pedang dari tanah dan berdiri di depan Nabi ﷺ. Ia bertempur dengan tangan sendiri, melindungi beliau dari serangan musuh. Tubuhnya penuh luka 12 sabetan pedang, satu di antaranya menganga di lehernya. Tapi ia tidak mundur.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يا عبد الله، اعصب جرح أمك! اللهم اجعلهم رفقائي في الجنة.
“Wahai Abdullah, balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surga.”
Doa itu membuat Ummu Umarah tersenyum di tengah luka. Ia berkata, “Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia.” Karena surga telah dijanjikan, dan cintanya kepada Nabi ﷺ telah diterima.
