Asma binti Abu Bakar r.a. lahir di Mekah sekitar 27 tahun sebelum Hijrah. Ia adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan kakak dari Aisyah r.a. Sejak kecil, Asma tumbuh dalam keluarga yang penuh iman dan keberanian. Ia termasuk generasi awal yang menerima Islam, dan sejak itu hidupnya dipenuhi dengan pengorbanan.

Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersiap hijrah ke Madinah, Asma memiliki peran penting. Ia menyiapkan bekal perjalanan untuk ayahnya dan Nabi ﷺ. Tidak ada wadah atau tali yang cukup untuk mengikat makanan dan air. Maka ia merobek kain pinggangnya menjadi dua bagian: satu untuk mengikat makanan, satu untuk mengikat air. Karena itu, Rasulullah ﷺ memberinya julukan:

إِنَّ أَسْمَاءَ ذَاتُ النِّطَاقَيْنِ

“Sesungguhnya Asma adalah perempuan dua ikat pinggang.” (HR. al-Bukhari no. 3901)

Julukan itu menjadi simbol keberanian dan pengorbanan seorang perempuan dalam mendukung dakwah.

Asma tidak hanya menyiapkan bekal. Ia juga menghadapi ancaman langsung dari Quraisy. Ketika Abu Jahal datang ke rumah Abu Bakar dan bertanya tentang keberadaan Nabi ﷺ, Asma menjawab dengan tegas, meski wajahnya dipukul hingga terluka. Ia tidak gentar, karena hatinya penuh iman.

Ia juga menjadi penghubung informasi. Diam-diam, ia membawa kabar dari Mekah ke Gua Tsur, tempat Nabi ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi. Perjalanan itu berbahaya, tapi Asma melakukannya dengan penuh keberanian.

Asma menikah dengan Zubair bin Awwam r.a., sahabat yang juga dijamin surga. Kehidupannya sederhana. Ia pernah berkata bahwa ia sering mengurus rumah, memberi makan kuda, dan menumbuk gandum sendiri. Namun ia tetap sabar, karena ia tahu bahwa kesederhanaan adalah bagian dari perjuangan.

Ia juga menjadi saksi sejarah besar. Putranya, Abdullah bin Zubair, kelak menjadi pemimpin kaum Muslimin. Asma mendidiknya dengan keteguhan iman. Bahkan ketika Abdullah menghadapi kekalahan, Asma tetap menasihatinya agar teguh dan tidak menyerah, meski itu berarti kematian.

Asma hidup panjang, hingga usia sekitar 100 tahun. Ia wafat di Mekah setelah melihat putranya Abdullah bin Zubair gugur. Meski penuh ujian, ia tetap dikenang sebagai perempuan yang sabar, pemberani, dan penuh iman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *