Ia adalah putri Nabi ﷺ, tapi hidupnya bukan di istana. Namanya Fatimah az-Zahra r.a. bunga yang tumbuh di tanah perjuangan. Ia tidak dibesarkan dengan kemewahan, tapi dengan kesabaran. Ia tidak dilindungi oleh pelayan, tapi oleh doa dan dzikir.

Setelah menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., Sayyidah Fatimah hidup dalam rumah kecil. Tidak ada pembantu, tidak ada kemewahan. Setiap hari, ia menggiling gandum dengan tangannya sendiri. Tangannya kasar, telapak kulitnya retak. Tapi ia tidak pernah mengeluh.

Suatu hari, sayyidah Fatimah datang kepada abahnya. Ia ingin meminta pelayan, karena tubuhnya lelah. Rasulullah ﷺ tidak memberinya pelayan. Beliau memberinya sesuatu yang lebih ringan, tapi lebih dalam.

ألاَ أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ؟ تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ

“Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu daripada pelayan? Bacalah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no. 5361, Muslim no. 2727)

Sayyidah Fatimah pun pulang. Ia tidak membawa pelayan, tapi membawa dzikir. Dan sejak hari itu, tangannya tetap bekerja. Tapi hatinya lebih ringan. Karena ia tahu: kesabaran adalah pelayan terbaik.

Tangannya menjadi saksi cinta. Cinta yang tidak menuntut. Cinta yang tidak bersuara. Cinta yang bekerja dalam diam.

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Sayyidah Fatimah menangis. Ia berkata, “Engkau telah menyampaikan risalah, dan kini engkau pergi.” Enam bulan kemudian, ia menyusul ayahnya. Dan tangan itu yang tak pernah menolak pekerjaan rumah, kini beristirahat di surga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *