Ia bukan dari kalangan bangsawan. Tubuhnya kecil, kulitnya gelap, dan kakinya kurus. Tapi di langit, namanya besar. Abdullah bin Mas‘ud r.a., sahabat Nabi ﷺ, ahli Al-Qur’an, dan penjaga ilmu yang paling halus tutur dan adabnya.

Ia masuk Islam di awal dakwah, saat kaum Quraisy masih mencaci. Ia pernah membaca Al-Qur’an di depan Ka‘bah, dan dipukuli karena itu. Tapi ia tidak gentar. Ia berkata, “Apa yang lebih indah daripada memperdengarkan firman Allah kepada mereka?”

Sejak itu, ia menjadi guru Al-Qur’an. Ia selalu membawa tongkat kecil bukan untuk berjalan, tapi untuk menunjuk ayat-ayat saat mengajar. Tongkat itu bukan sekadar kayu. Ia adalah simbol ilmu, adab, dan kedekatan ruhani. Ia menunjuk ayat dengan hati, bukan hanya dengan tangan.

قال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه: والله الذي لا إله غيره، ما نزلت آية من كتاب الله إلا وأنا أعلم فيمن نزلت وأين نزلت، ولو أعلم أحداً أعلم مني بكتاب الله تبلغه الإبل، لأتيته

“Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, tidaklah satu ayat pun dari Kitab Allah diturunkan kecuali aku tahu kepada siapa ia diturunkan dan di mana ia diturunkan. Jika aku tahu ada orang yang lebih tahu dariku tentang Kitab Allah, dan bisa dijangkau oleh unta, pasti aku akan mendatanginya.” (Diriwayatkan oleh al-Dhahabi dalam Siyar A‘lam al-Nubala’, 1/463)

Ia mengajar dengan lembut. Ia memperbaiki bacaan dengan sabar. Dan ketika ia wafat, para sahabat menangis. Mereka berkata, “Hari ini, ilmu telah pergi bersama tongkat itu.” Karena tongkat itu bukan hanya alat, ia adalah warisan ruhani, jejak ilmu yang ditinggalkan oleh seorang sahabat yang hidupnya adalah Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *