Dalam sejarah kenabian, kelahiran Rasulullah Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan juga spiritual yang mengandung dimensi hakikat. Para ulama besar seperti KH Maimoen Zubair dan pengkaji maulid klasik seperti al-Barzanji dan ad-Diba’i menyebut bahwa Rasulullah memiliki dua jenis kelahiran: lahir wad’i dan lahir hakiki.
1.Lahir Wad’i: Kelahiran Jasmani
Kelahiran wad’i adalah kelahiran fisik yang dialami oleh semua manusia. Rasulullah SAW lahir secara wad’i pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan 20 April 571 Masehi, di Kota Makkah. Peristiwa ini dikenal sebagai Tahun Gajah, karena bertepatan dengan penyerangan pasukan Abrahah ke Ka’bah.
Tradisi umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati kelahiran ini sebagai Maulid Nabi, bentuk penghormatan dan rasa syukur atas hadirnya sosok pembawa rahmat bagi semesta alam.
2.Lahir Hakiki: Kelahiran Nur Muhammad
Berbeda dengan kelahiran wad’i, kelahiran hakiki merujuk pada lahirnya Nur Muhammad, cahaya kenabian yang telah diciptakan Allah SWT sebelum penciptaan alam semesta. Dalam tradisi maulid dan tafsir sufistik, Nur Muhammad ditransfer dari Nabi Adam AS, melalui para nabi, hingga akhirnya menetap di tubuh Sayyid Abdullah dan berpindah ke rahim Sayyidah Aminah.
Kelahiran hakiki ini diyakini terjadi pada malam pertama berkumpulnya Abdullah dan Aminah setelah pernikahan mereka, yaitu malam Kamis, tanggal 10 Rajab tahun 570 M, sebagaimana disebut dalam riwayat Pondok Pesantren Al-Anwar. Pada malam itu, Sayyid Abdullah merasakan perubahan batin yang mendalam, sementara Sayyidah Aminah merasakan kesegaran dan ketenangan luar biasa.
3.Keistimewaan Rasulullah Dibanding Manusia Biasa
Semua manusia hanya mengalami satu kelahiran, yaitu kelahiran wad’i. Bahkan tokoh besar seperti Imam Syafi’i dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani tidak diketahui secara pasti kapan kedua orang tua mereka berkumpul, dan tidak ada yang merasakan proses spiritualnya.
Namun, Rasulullah SAW adalah satu-satunya manusia yang kelahirannya secara hakiki dirasakan dan disaksikan oleh kedua orang tuanya, serta diiringi oleh tanda-tanda langit dan bumi. Ini menunjukkan bahwa beliau bukan hanya manusia biasa, melainkan manifestasi rahmat dan cahaya ilahi yang telah dipersiapkan jauh sebelum kelahirannya secara jasmani.
Sumber: Syaikhina KH. Maimun Zubair
